Selamat Jalan Bang Edi
Hari Rabu, tgl 12 Maret 2008, tepat seminggu yang lalu, aku mulai dengan biasa aja. Gak ada sesuatu yang aneh sedikitpun. Pagi2 aku nelpon Rina untuk memberi dukungan atas interviewnya sore itu dengan Bank Niaga. Bahkan hari itu aku menyusun rencana2ku dengan sangat baik. Aku mengerjakan tugas SM, dengan target malamnya slide presentasi dan paper SM selesai.
Satu kesalahan lagi yg aku lakukan sore itu..Tepat pukul 5 sore aku kepingin berdoa. Tapi tugas yang banyak membuat aku menunda2 utk berdoa. Aku pikir, nanti malam kalau tugasku sudah selesai aku akan berdoa. Sore kira2 pukul 5:30 aku menghubungi Rina, keponakanku, anak tertua Bang Edi, utk ngobrol mengenai interviewnya dengan Bank Niaga. Segera setelah aku dan Rina selesai berbincang2 aku mandi dan bersiap2 utk menyelesaikan tugas2ku. Baru saja aku membuka komputer, kurang lebih pukul 6:10 sore, abangku tertua menelpon. Dengan tergagap dia mengabarkan bahwa abangku Edi sudah tiada. Sore itu rasanya dunia berputar tidak keruan...Aku gak kepingin percaya berita itu, tapi dia sudah pergi..
Penyesalan sekejap menguasai aku...Sehari sebelumnya aku terdorong untuk puasa, tapi karena masih kelelahan sepulang dari Bali aku tidak jadi puasa. Aku juga tidak menelpon Bang Edi untuk menanyakan kesehatannya ketika tiga minggu yang lalu mamak minta bantuan doa karena Bang Edi kelihatannya terlalu lemah untuk berangkat ke Kalimantan bulan May nanti. Aku mengira, Bang Edi pasti akan baik2 aja...
Bang...Bang...Seandainya aku tau, kau akan pergi, pingin rasanya mengulangi waktu. Banyak sekali penyesalanku Bang. Aku kurang memperhatikanmu. Bang..Bang..Maafkanlah aku Bang. Terlalu besar salahku samamu..Sampai sekarang aku masih berandai-andai. Seandainya Hari Selasa, sehari sebelum kau pergi aku berpuasa, mungkin Tuhan masih memberi tambahan umur untukmu. Seandainya hari itu pukul 17 aku berdoa mungkin pukul 17:30 kau tidak jadi berangkat...Seandainya...
Tapi satu hal membuat aku tetap mengucap syukur di hadapan Tuhan. Kudengar cerita tentang bagaimana pelayananmu di masa2 terakhirmu Bang. Kudenger banyak jiwa kau bawa mengenal Yesus sebagai juruselamat dunia. Kudengar kau mendoakan orang lain yang sakit dan dia sembuh. Kudengar kau rajin menginjili teman2mu yang dulu nakal walaupun kau sakit Bang. Kudengar kau pergi hanya beberapa menit setelah kau berdoa bersama2 dengan mamak, bapak dan eda. Bahkan saat itu kau minta supaya orang sakit yang tidur di sebelahmu juga didoakan. Aku bersyukur pada Tuhan Bang, karena aku yakin bahwa kau sekarang ada di surga. Kau sudah mendapat tempat yang terbaik.
Kepergianmu sangat mulia Bang. Apakah kau liat betapa banyak orang yang menyayangimu yang datang untuk mengucapkan selamat jalan? Lebih dari itu bang, kepergianmu memperdamaikan banyak orang. Banyak orang2 yang tadinya bermusuhan, bersatu di hari kepergianmu. Mereka datang dan saling memeluk dan menangis di depan jenazahmu Bang. Benar2 Tuhan membuat hari kepulanganmu mulia Bang.
Kepergianmu juga membuat aku sadar, betapa bodohnya aku ini dalam banyak hal. Bayaran untuk menunjukkan kesalahanku terlalu mahal Bang.
Aku sayang amamu Bang. Dan aku bangga amamu. Kalau kau liat aku dari sorga, maafkanlah aku Bang, dan doakanlah aku, kami semua yang kau tinggalkan.
Selamat jalan abangku...Selamat berjumpa dan bersukacita dengan Bapa di sorga. Suatu saat kita pasti bertemu kembali.
I love u...

Recent Comments